Thursday, 21 February 2008

What are CD4+T cells?

CD4+T cells are the immune system's key infection fighters and the entity that allows HIV to enter, attach and infect the body's immune system. The CD4+T cells (also called T4 cells) are disabled and destroyed by the virus, often with no symptoms, causing a significant decrease in the blood levels of T4 cells. In the advanced stages of HIV, the body may have fewer than 200 T4 cells, while a healthy adult's count is 1,000 or more. In this way, the body's immune system is continuously weakened from the moment of infection and the inability of the immune system to fight infection opens the door to opportunistic infections.

Tuesday, 19 February 2008

HIV Disease


Disease

Acquired immune Deficiency Syndrome (AIDS) is an illness caused by a chronic infection with a retrovirus named Human Immunodeficiency Virus (HIV). The breakdown of the immune system resulting from HIV infection leads to increasing susceptibility to other infections and immune disorders. It is estimated that over 40 million people are currently infected with HIV.
Therapy and Challenges
Since the first reports on AIDS in the early eighties, significant progress has been made. The impact of combining antiretrovirals from different classes in highly active antiretroviral therapy (HAART) on the morbidity and mortality of HIV-infected individuals has been dramatic. HIV/AIDS is becoming more of a manageable, chronic illness.
However, many challenges remain to be met. Due to the combination of extremely high levels of virus production and a high mutation rate, growing resistance causes anti-HIV drugs to become less effective over time. Hence, drugs with improved potency to resistant HIV and a higher genetic barrier to resistance development are needed. Sub-optimal drug levels also facilitate the emergence of resistant HIV, making adherence to therapy very important. Adherence could be improved by more patient-friendly dosing regimens and reduced side effects. In addition, long-term toxicity resulting from both the infection and the use of existing treatments are an increasing concern.
For more information on HIV and AIDS, please visit www.tibotec-hiv.com.

Thursday, 20 September 2007

HIV DATA


UNAIDS/WHO estimates are based on all available data, including surveys of pregnant women, population-based surveys, and other surveillance information. UNAIDS views such information as complementary and useful in helping to estimate the number of people living with HIV in a country. There have been steady improvements in the modelling methodology used by UNAIDS/WHO and partners, along with better data from country surveillance. These have led to lower global HIV/AIDS estimates, not just for the current year but also for past years, despite the continued expansion of the global epidemic. Current estimates therefore cannot be compared directly with estimates from previous years, nor with those that may be published subsequently. UNAIDS and WHO continue to work with countries, partner organizations and experts to improve data collection. These efforts will ensure that the best possible estimates are available to assist governments, non-governmental organizations and others in gauging the status of the epidemic and monitoring the effectiveness of prevention and care efforts.

Saturday, 18 August 2007

HIV Obat from Mewaspadai Komplikasi TBC dan HIV/AIDS

JAKARTA – HIV OBAT /AIDS dan Tubercolosis (TBC) bagaikan saudara kembar. Angka penderita HIV/AIDS di suatu wilayah, termasuk Indonesia, berbanding lurus dengan jumlah penderita TBC. Diperkirakan satu dari tiga penderita HIV/AIDS adalah juga penderita TBC. Karena itu, upaya menanggulangi penyebaran HIV/AIDS sebenarnya juga akan menekan penyebaran TBC.

Jumlah penderita TBC di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar setelah Cina dan India. Berdasar data yang dihimpun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1999, di Indonesia setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru dengan kematian 140.000. Bahkan diperkirakan, dari setiap 100.000 penduduk terdapat 130 penderita dengan kuman positif pada dahaknya.
Sementara penyebaran virus HIV sendiri luar biasa cepat. Menurut data Departemen Kesehatan, hingga Desember 2002 tercatat ada 3.568 kasus HIV/AIDS di Indonesia. Namun perlu digarisbawahi, kasus yang sebenarnya jauh melebihi angka tersebut karena banyak penderita HIV/AIDS yang tidak melaporkan diri kepada ahli medis karena merasa malu atau takut disisihkan dari keluarga dan masyarakat. Data yang tercacat hanyalah pucuk dari gunung es, di mana angka sesungguhnya jauh lebih besar dari yang tampak.

Rentan TBC
Sebagai virus yang menyerang kekebalan tubuh, HIV Obat memang membuat para penderitanya rentan terhadap segala jenis penyakit. Salah satunya adalah TBC. ”Apabila seorang penderita HIV berhadapan dengan pasien TBC, dengan cepat bisa terjadi penularan TBC melalui air borne atau udara. Dan kalau ini terjadi maka HIV akan merebak menjadi AIDS,” ujar Dr. Ahmad Hudoyo, spesialis penyakit paru dari Rumah Sakit Persahabatan Jakarta kepada SH di Jakarta, Kamis (27/2).
Kondisi ini disebabkan oleh lemahnya daya tahan atau imunitas tubuh si penderita HIV, sehingga dengan mudah bisa terjangkit TBC. Namun sebaliknya, seorang penderita TBC memiliki risiko yang sama besarnya dengan orang normal untuk tertular HIV, yakni melalui jarum suntik, hubungan seks dan sebagainya. Menurut Hudoyo, hingga hari ini belum ada kasus di mana penderita TBC tertular HIV karena jarum suntik.
Sementara Dr. Samsuridjal Djauzi, ahli penyakit dalam dari RS Kanker Dharmais, mengatakan bahwa kedua penyakit ini saling memperburuk satu sama lain. ”Satu dari penderita HIV/AIDS adalah penderita TBC,” ungkap Samsuridjal dalam kesempatan berbeda.
Infeksi HIV memang menjadi faktor risiko yang amat kuat bagi kemunculan TBC dalam tubuh pasien yang bersangkutan. Dengan tingginya angka penderita TBC di suatu negara, maka para penderita HIV lebih cepat terjangkit AIDS. Sehingga angka mortalitas akibat HIV/AIDS –dengan keberadaan TBC– dikhawatirkan akan cukup tinggi.
Dr. Alfiansyah dari Bagian Pulmo Rumah Sakit Mitra Jakarta membenarkan hal ini. Menurutnya, seseorang yang sudah memiliki HIV tidak akan mampu menahan terjadinya infeksi baru yang disebabkan oleh TBC. Keadaan kesehatannya akan semakin parah dan segera ia akan menjadi penderita AIDS, sebuah kondisi yang jauh lebih lemah akibat HIV. Biasanya penderita HIV membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menjadi AIDS. Namun dengan merebaknya TBC akan mempercepat kurun waktu tersebut.
Fakta ini tidak bisa dianggap enteng, sebab WHO sempat melaporkan hasil penelitiannya pada tahun 1995 bahwa TBC merupakan komplikasi serius pada 50 sampai 70 persen kasus AIDS di Asia.

Pelayanan Kesehatan
Solusi yang bisa dilakukan untuk menekan kenaikan kasus AIDS ini adalah juga melakukan penanggulangan penyakit TBC. Menurut Samsuridjal, jika TBC sudah menyerang pasien HIV maka yang bisa dilakukan adalah melakukan pengobatan penyakit TBC terlebih dulu. ”Ini memerlukan waktu sekitar 6 bulan,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RS Kanker Dharmais ini.
Sementara jika penyebaran virus HIV sudah akut, maka pengobatan TBC maupun HIV/AIDS harus dilakukan secara berbarengan. Dengan catatan obat yang digunakan untuk mengobati TBC tidak boleh bertentangan dengan obat untuk HIV/AIDS. Samsuridjal juga menekankan bahwa pelayanan kesehatan untuk penderita HIV/AIDS mestinya bisa dilakukan seperti halnya penderita TBC. Ia mengatakan pedoman WHO menyebutkan penanganan HIV/AIDS bisa dilakukan di daerah. Ini artinya setingkat dengan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).
Karena itu, bersama timnya, Samsuridjal membuat buku Pedoman Penatalaksanaan HIV/AIDS untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. Buku ini diharapkan berguna bagi tenaga medis daerah untuk membuka layanan bagi penderita HIV/AIDS. ”Setahu saya, satu-satunya Puskesmas yang sudah membuka layanan seperti ini adalah di Kampung Bali (Tanah Abang, Jakarta Pusat –red),” jelasnya.
Selain itu, pengadaan obat murah bagi penderita HIV/AIDS mesti segera dilakukan. Kerja sama antara Thailand dengan perusahaan farmasi di Indonesia baru-baru ini, menurut Samsuridjal, akan membuat produksi obat HIV bisa dilakukan di dalam negeri sehingga para penderita HIV/AIDS bisa mendapatkannya dengan harga murah. Bayangkan, untuk obat generik HIV/AIDS asal India kini harus dibeli dengan harga 650 ribu rupiah untuk kebutuhan satu bulan. Obat ini dikonsumsi dua tablet dalam sehari. Sementara jika Indonesia bisa memproduksi sendiri, maka obat tersebut dapat diperoleh dengan harga 400 ribu rupiah. Diperkirakan obat HIV produksi dalam negeri itu akan muncul tahun ini atau awal tahun depan.
Pada akhirnya, semua pihak –bukan hanya pemerintah— perlu mengalokasikan dana untuk membantu pengadaan obat HIV/AIDS. Sama halnya dengan pengadaan obat dan vaksinasi untuk TBC. ”Kita mesti menekankan bahwa obat bukan sebagai upaya komersial, tapi sosial,” demikian Samsuridjal

Tuesday, 14 August 2007

Obat hiv dari buah merah

Ada Harapan dari Sari Buah Merah Obat hiv

SECERCAH harapan bagi penderita HIV/AIDS untuk sembuh muncul dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Sari buah merah atau nama latinnya Phaleria Papuana (Red Froot Oil) yang diduga hanya tumbuh di pulau tersebut, tampaknya bisa diprediksi sebagai obat penangkal virus yang menyerang kekebalan tubuh.

Meskipun belum ada penelitian secara medis mengenai buah merah yang panjangnya semeter dan beratnya 15 kg, namun masyarakat Papua khusus Kab. Wamena yang dikonsumsi oleh penderita HIV/AIDS bisa merasakan perubahan yang signifikan sehingga kondisi kesehatannya semakin membaik, walau belum dinyatakan sembuh total.

Drs. I Made Budi MSi., mengatakan kepada beberapa media massa, seorang pengidap HIV/AIDS yang bernama Agustina (22) mengalami perubahan kesehatan . Berat badannya semula 27 kg, karena terserang virus yang belum ada obatnya itu, namun setelah mengonsumsi sari buah merah, naik menjadi 42 kg.

Awalnya, Agustina yang mengidap HIV/AIDS dibawa Yayasan Pengembangan Kesehatan Masayarakat (YKPM) Papua kepada I made Budi yang sedang meneliti buah itu. YKPM Papua yang mengetahui adanya sari buah merah yang dapat merekondisi kesehatan penderita HIV/AIDS meminta I Made Budi untuk meminum sari buah merah kepada Agustina.

Setelah beberapa lama Agustina meminum sari buah merah, ia merasa lebih baik. Gejala diare berat dan sariawan yang muncul jika mengidap HIV/AIDS hilang. Ia merasa segar dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bak orang sehat.

Fendy R. Paimin yang menjual sari buah merah itu di Bogor menyebutkan, ia mendapat pasokan buah itu dari Jayapura. Kemudian Ia menjualnya dalam botol kaca kemasan seberat 120 ml seharga Rp 150.000,-. Kini ia kehabisan stok karena permintaan akan sari buah merah itu sangat banyak. "Begitu pasokan dari Papua datang, hari itu juga terjual habis. Kami kini sedang menunggu kedatangan sari buah merah ," ujar Fendy yang merasa kewalahan karena banyaknya permintaan.

**

SARI buah merah yang disebut kuansu oleh penduduk setempat menjadikannya sebagai obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) secara tidak sengaja. Awalnya, lanjut Made, buah merah itu diambil oleh masyarakat Wamena sebagai bahan makanan.

Dosen Universitas Cendrawasih itu mengamati secara sakasama kebiasaan masyarakat tersebut yang mengonsumsi buah merah itu, ternyata masyarakat sekitar selain tidak mengidap HIV/AIDS juga jarang terkena penyakit hepatitis, kanker, jantung dan hipertensi. " Saat itu saya menduga, jarangnya penyakit yang diderita masyarakat Wamena pasti berhubungan dengan buah itu," ujar Made.

Setelah meneliti beberapa lama, ternyata buah merah itu banyak mengandung Antioksidan, Betakarotin, Omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh. "Kemudian saya melakukan percobaan kepada 30 unggas karena virus yang berbahaya tersebut itu sedang menyerang unggas, " ujar Made yang menyelesaikan S-2 bidang gizi masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) itu hanya ingin mengungkap kandungan gizi buah tersebut, namun akhirnya ia mencoba juga meneliti, apakah bisa untuk menangkal HIV/AIDS . Ternyata dari hasil analisis, kandungan kimiawi buah merah itu dapat yang mengilhami Made untuk menjadikan sebagai obat. Buah merah itu mengandung zat gizi bermanfaat dalam kadar tinggi. Di antaranya Betakatoren, Tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan dekanoat. Semuanya merupakan senyawa obat aktif.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel T Helpers dan limposit. Suatu studi membuktikan konsumsi betakaroten 30 - 60mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh memiliki sel-sel pembunuh alami terbanyak.
Ada Harapan dari Sari Buah Merah

SECERCAH harapan bagi penderita HIV/AIDS untuk sembuh muncul dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Sari buah merah atau nama latinnya Phaleria Papuana (Red Froot Oil) yang diduga hanya tumbuh di pulau tersebut, tampaknya bisa diprediksi sebagai obat penangkal virus yang menyerang kekebalan tubuh.

Meskipun belum ada penelitian secara medis mengenai buah merah yang panjangnya semeter dan beratnya 15 kg, namun masyarakat Papua khusus Kab. Wamena yang dikonsumsi oleh penderita HIV/AIDS bisa merasakan perubahan yang signifikan sehingga kondisi kesehatannya semakin membaik, walau belum dinyatakan sembuh total.

Drs. I Made Budi MSi., mengatakan kepada beberapa media massa, seorang pengidap HIV/AIDS yang bernama Agustina (22) mengalami perubahan kesehatan . Berat badannya semula 27 kg, karena terserang virus yang belum ada obatnya itu, namun setelah mengonsumsi sari buah merah, naik menjadi 42 kg.
Awalnya, Agustina yang mengidap HIV/AIDS dibawa Yayasan Pengembangan Kesehatan Masayarakat (YKPM) Papua kepada I made Budi yang sedang meneliti buah itu. YKPM Papua yang mengetahui adanya sari buah merah yang dapat merekondisi kesehatan penderita HIV/AIDS meminta I Made Budi untuk meminum sari buah merah kepada Agustina.

Setelah beberapa lama Agustina meminum sari buah merah, ia merasa lebih baik. Gejala diare berat dan sariawan yang muncul jika mengidap HIV/AIDS hilang. Ia merasa segar dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bak orang sehat.

Fendy R. Paimin yang menjual sari buah merah itu di Bogor menyebutkan, ia mendapat pasokan buah itu dari Jayapura. Kemudian Ia menjualnya dalam botol kaca kemasan seberat 120 ml seharga Rp 150.000,-. Kini ia kehabisan stok karena permintaan akan sari buah merah itu sangat banyak. "Begitu pasokan dari Papua datang, hari itu juga terjual habis. Kami kini sedang menunggu kedatangan sari buah merah ," ujar Fendy yang merasa kewalahan karena banyaknya permintaan.

**

SARI buah merah yang disebut kuansu oleh penduduk setempat menjadikannya sebagai obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) secara tidak sengaja. Awalnya, lanjut Made, buah merah itu diambil oleh masyarakat Wamena sebagai bahan makanan.

Dosen Universitas Cendrawasih itu mengamati secara sakasama kebiasaan masyarakat tersebut yang mengonsumsi buah merah itu, ternyata masyarakat sekitar selain tidak mengidap HIV/AIDS juga jarang terkena penyakit hepatitis, kanker, jantung dan hipertensi. " Saat itu saya menduga, jarangnya penyakit yang diderita masyarakat Wamena pasti berhubungan dengan buah itu," ujar Made.

Setelah meneliti beberapa lama, ternyata buah merah itu banyak mengandung Antioksidan, Betakarotin, Omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh. "Kemudian saya melakukan percobaan kepada 30 unggas karena virus yang berbahaya tersebut itu sedang menyerang unggas, " ujar Made yang menyelesaikan S-2 bidang gizi masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) itu hanya ingin mengungkap kandungan gizi buah tersebut, namun akhirnya ia mencoba juga meneliti, apakah bisa untuk menangkal HIV/AIDS . Ternyata dari hasil analisis, kandungan kimiawi buah merah itu dapat yang mengilhami Made untuk menjadikan sebagai obat. Buah merah itu mengandung zat gizi bermanfaat dalam kadar tinggi. Di antaranya Betakatoren, Tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan dekanoat. Semuanya merupakan senyawa obat aktif.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel T Helpers dan limposit. Suatu studi membuktikan konsumsi betakaroten 30 - 60mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh memiliki sel-sel pembunuh alami terbanyak.
Pemerintah Subsidi Obat HIV/AIDS Untuk 2.000 Orang

JAKARTA - Tahun depan pemerintah menyubsidi obat HIV/AIDS antiretroviral (ARV) generik untuk sekitar 2.000 pengidap HIV / AIDS (Orang dengan HIV / AIDS atau ODHA) di seluruh Indonesia. Selain itu, sekitar Agustus dan September tahun ini, 100 Odha mendapat ARV gratis selama empat tahun dari bantuan global (Global Fund for AIDS, Tuberculosis, Malaria-GFATM).

Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) dr. Haikin Rachmat M.Sc. menuturkan hal itu, Senin (23/6) di Jakarta.

Pada 15 Juni lalu, kata Haikin, GFATM sudah menyetujui bantuan pengadaan ARV bagi 500 ODHA selama empat tahun sejumlah US$ 6,8 juta. Bantuan berupa hibah itu disalurkan melalui dua tahap. Tahap pertama US$ 2,5 juta, dan tahap kedua US$ 4,3 juta.

Ia menambahkan, PPMPL juga telah mengusulkan dana sebesar US$ 101 juta untuk pengadaan ARV generik tahap ketiga. Bila dana itu disetujui ODHA di seluruh provinsi Indonesia diharapkan bisa mendapatkan bantuan ARV generik. Tetapi, karena dana terbatas, ODHA yang mendapat ARV generik secara gratis perlu diseleksi. Untuk itu, PPMPL akan bertemu dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang HIV / AIDS.

Sampai sekarang, ujarnya, belum jelas kriteria ODHA yang akan menerima ARV generik gratis. Kriteria utamanya adalah ODHA yang miskin, berdasarkan hasil coluntary confidential counseling testing (VCT) ODHA yang bersangkutan perlu memakai ARV, antibodi CD4 kurang dari 200/mm3.

Pencairan dana itu terkendala belum adanya kesepakatan mekanisme penyaluran dana dengan pihak GFATM. Di samping itu, harus dipastikan ODHA yang memakai ARV generik tahu benar risiko bila putus obat, serta perlunya pengawas minum obat.

Haikin menambahkan, perkiraan 2.000 ODHA yang akan mendapat subsidi ARV generik itu didasarkan pada rekaman data 2.556 pengidap HIV positif dan 1.058 pengidap AIDS. Sebagian di antaranya meninggal. Soal besarnya subsidi untuk tiap orang, Haikin mengatakan hal itu masih dibahas di Biro Perencanaan Departemen Kesehatan.

Yang pasti, katanya, sidang kabinet dua pekan lalu sudah memutuskan subsidi bagi ODHA di enam provinsi (DKI Jakarta, Papua, Riau, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur). Sedangkan pengadaan ARV gratis bagi 100 ODHA ada di empat provinsi (Papua, Riau, DKI Jakarta dan Bali).

"ODHA yang mendapat ARV gratis tidak bisa diganti-ganti karena pemakaian ARV harus seumur hidup. Setiap tahun pemakaiannya dievaluasi. Bila bagus, jumlah ODHA yang mendapat bantuan akan bertambah. Bila dana itu habis, tentu harus diambil alih pemerintah. Yang menjadi masalah apakah pemerintah sanggup," Haikin mempertanyakan.

Tepat Sasaran

Secara terpisah Koordinator Program Akses Diagnosis dan Terapi Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS FKUI / RSCM dr. Samsuridjal Djauzi Sp.PD menuturkan penyaluran bantuan ARV harus tepat sasaran. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengalokasian bantuan, yaitu indikasi medis dan indikasi sosial. Oleh karena itu, pemerintah dan LSM harus duduk bersama dalam menentukan ODHA yang akan mendapat bantuan ARV.

Pasalnya, jumlah bantuan lebih sedikit daripada orang yang membutuhkannya. Kriteria penerima bantuan obat juga mencakup manfaat yang diperoleh bila seorang ODHA memakai ARV generik dan keterangan dari kantor tempat ODHA bekerja untuk mengetahui kemampuan ekonominya. Samsuridjal mengatakan, sudah sejak tahun 2000 bantuan obat HIV/AIDS diusulkan LSM kepada pemerintah. Yayasan Pelita Ilmu (YPI), misalnya mwngusulkan 100 ODHA yang menerima bantuan ARV.

Diusulkan pula subsidi Rp. 200.000/bulan/ODHA untuk 2.000 ODHA mengeluarkan uang Rp. 600.000 untuk ARV generik. Jumlah Rp. 200.000, tambah pendiri YPI itu, bukanlah angka ideal. Seharusnya obat ARV generik bisa dijangkau para ODHA. Artinya, harga itu hendaknya lebih rendah lagi. Itu bisa terjadi bila ARV generik diproduksi sendiri oleh Indonesia.